Tereos FKS Indonesia yakin tumbuh, apa upayanya?

ILUSTRASI. Maya Devi, Sales & Marketing Director Tereos FKS Indonesia

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Melihat perkembangan pati jagung yang masif, PT Tereos FKS Indonesia (TFI) optimistis dapat mengerek pertumbuhan pendapatan di tahun ini. Perusahaan pati jagung (corn starch) juga berencana akan diversifikasi produknya di tahun ini.

Laurent Lambert, President Director PT Tereos FKS Indonesia menjelaskan penjualan semester I-2019 meningkat double digit ketimbang periode sama tahun lalu. Oleh karena itu perusahaan menargetkan bisa meningkatkan penjualan domestik dalam tahun ini.

Baca Juga: Produsen pati jagung, Tereos FKS bidik pertumbuhan 20% tahun ini

“Permintaan pati jagung di sektor industri khususnya dari sektor bihun instan dan sweetener terus meningkat,” kata Laurent, Kamis (22/8).

Sebelumnya kepada KONTAN, TFI optimis dapat meningkatkan kinerja penjualan mencapai 20%. Namun saat ini perusahaan optimis bisa mencapai peningkatan penjualan mencapai 30%.

Salah satu alasan peningkatan penjualanya karena permintaan pati jagung yang meningkat. Dari data tahun 2018 tercatatat permintaan pati jagung nasional sekitar 600.000 ton.

Diperkirakan jumlah permintaan akan meningkat lagi seiring dengan meningkatnya kebutuhan industri lainnya. Tahun lalu penguasaan pangsa pasar TFI sekitar 20%. Sedangkan sbanyak 20% berasal dari produsen lain dalam negeri dan sisanya impor.

Baca Juga: Tereos FKS Kucurkan Investasi US$ 100 Juta Untuk Menambah Kapasitas Pabrik di Cilegon

Selain memasok kebutuhan lokal, TFI juga menyuplai produknya ke pasar ekspor di berbagai negara, mulai dari regional Asean, Asia Timur hingga Afrika. Yang terbaru, tahun kemarin mengekspor telah produknya seberat 35.000 ton. “Tahun ini angka ekspor kurang lebih akan sama karena kami fokus domestik terlebih dahulu,” jelasnya.

Tantangannya saat ini bahan baku perseroan berupa jagung dibeli dalam dolar Amerika Serikat (AS). Oleh karena itu, perusahaan berharap Indonesia dapat mengembangkan pertanian jagung yang bisa memenuhi kebutuhan industri. Sehingga rantai pasok industri jagung dalam negeri berdaya saing dengan negara lain.

“Saat ini biaya (cost) bahan baku jagung menyumbang 70% dari biaya produksi kami,” jelasnya.


Reporter: Eldo Christoffel Rafael
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: