Tan Malaka: Bapak Bangsa ‘Merdeka 100 Persen’ yang Terlupa

Bapak Bangsa Tan Malaka seolah terlupa dalam alam kemerdekaan ini.

Oleh: Dian Widiyanarko, Penulis, Jurnalis, dan Penyimak Filsafat.

Saya mengenal Tan Malaka diawali dari teman SMA saya di kelas yang mempertanyakan ke guru sejarah mengapa Tan Malaka tidak ada di pelajaran sejarah?
 Waktu itu guru saya bingung jawabnya. Sejak saat itu saya penasaran tentang sosok ini.

Maka saat kuliah di Yogya saya banyak beli dan baca buku soal Tan Malaka. Baik buku karyanya seperti Madilog, Menuju Republik Indonesia, Aksi Massa, dan sebagainya, maupun buku tentang dia yang ditulis Harry Poeze, atau sejarawan lainnya.

Saat jadi wartawan, saya senang sekali ada undangan liputan soal Tan Malaka. Saat itu acara yang salah satu nara sumbernya Harry Poeze dan orang dari Departemen sosial. Saat itu dibahas berbagai hal tentang peran Tan Malaka, mulai dari soal pengerah massa di lapangan Ikada sampai soal penemuan dan pemugaran makam Tan Malaka.

Hasil gambar untuk Tan Malaka di lapangan Ikada

Keterangan Foto: Tan Malaka berjalan bersama Bung Karno menghadiri rapat raksasa di lapangan Ikada (kini lapangan Monas, Gambir).

Besoknya ternyata tulisan saya tidak dimuat di koran saya. Padahal di Kompas, Jawapos, dan lain-lain HL walau di dalam.

Kesel tapi ya agak maklum mungkin waktu itu yang menngedit berita gak paham soal Tan Malaka, sama kayak guru SMA saya waktu itu.

Jadi gak heran jika jika Bapak Republik, yang tewas di tangan tentara republik yang diperjuangkannya sendiri itu, terlupakan.

Tapi belakangan sudah lumayan pengetahuan orang akan Tan Malaka. Terutama sejak berbagai media (apalagi di zaman media online) suka mengangkat tokoh ini.

Bahkan banyak orang “puber baca” yang suka pamer buku Madilog. Walau entah dia paham apa gak isinya hahaha

Kita lihat saja apakah cita-cita Tan Malaka yang dahulu bercita-cita Indonesia haurs merdeka 100 persen masih dikenang. Dan kala itu — Tan Malaka dan juga diikuti Jendral Sudirman — enggan berunding denga Belanda. Katanya:”Mana mungkin tuan rumah yang rumahnya dicuri akan berunding dengan pencurinya!”.

Pada saat itu ucapan Tan Malaka membuat sebaian elit gerah. Perundingan tetap berjalan meski banyak merugikan posisi perjuangan kemerdekaan. Tapi Tan Malaka tak pernah lelah atau putus asa menyerukan sikap ‘perlawanan’ toral kepada penjajah itu.  Dalam soal ini dia berkata bahwa di dalam kubur suaranya akan lebih keras terdengar.

Kita lihat saja nanti apakah segala ucapan dan cita-citanya akan tercapai atau tidak. Ke depan kita lihat juga apakah bangsa ini makin berdaulat atau tidak. Di sepanjang zaman menuju cita-cita bayangan Tan Malaka pasti menghantui!

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: