Seberang Ulu Sumbang Kawasan Kumuh Terbanyak di Palembang

Liputan6.com, Palembang – Kawasan Seberang Ulu di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) terus dielukan menjadi kawasan potensial pemekaran menjadi Kabupaten Palembang Ulu. Ternyata, daerah ini juga menjadi penyumbang kawasan kumuh terbanyak di Kota Palembang.

Kepala Bappeda dan Litbang Kota Palembang Harrey Hadi mengatakan, dari data tahun 2014, kawasan kumuh di Kota Palembang seluas 2.440 Hektar.

Angka kawasan kumuh pun sudah berkurang hingga 50 persen di tahun 2018, yaitu bersisa 1.437 Hektar. Namun sumbangan terbanyak kawasan kumuh berasal dari daerah Seberang Ulu.

“Jika diprediksi dari sisa kawasan kumuh, 65 persen disumbangkan dari daerah Seberang Ulu, sisanya baru di Seberang Ilir,” ujarnya kepada Liputan6.com, Jumat (28/6/2019).

Beberapa kawasan kumuh di Seberang Ulu yaitu di Kertapati, Jakabaring dan Plaju Palembang.

Di daerah tersebut masih banyak bangunan hunian lama, yang dikategorikan kumuh. Sedangkan di kawasan Seberang Ilir, beberapa daerah termasuk kumuh salah satunya di Tangga Buntung.

Ada beberapa faktor yang dinilai sebagai kawasan kumuh, yaitu pembangunan, limbah, persampahan, drainase, akses kebakaran, air bersih, sanitasi dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Kawasan kumuh itu masuk dalam 7+1 itu, seperti akses jalannya susah dilewati mobil pemadam kebakaran saat terjadi insiden kebakaran, sampah yang menumpuk dimana-mana. Meskipun rumah mewah, namun daerahnya seperti itu tetap masuknya kawasan kumuh,” ujarnya.

Salah satu program Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dalam pengentasan kawasan kumuh adalah Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU).

Program ini sudah dilakukan sejak tahun 2014, diantaranya membersihkan sungai, melakukan penataan pedestrian, drainase dan rumah-rumah di bantaran sungai.

“Kegiatan ini rutin kita lakukan, untuk menyukseskan program KOTAKU. Ini juga sangat ampuh menekan luasan kawasan kumuh di Kota Palembang,” katanya.

Ada juga langkah yang bisa dilakukan warga untuk membuat RTH di lingkungan rumah. Yaitu menanam cabai tanpa menggunakan lahan, melainkan menggunakan Polybag.

 

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: